Insitekaltim, Jakarta – Nyeri dada sering kali menjadi keluhan yang memicu kepanikan. Tidak sedikit orang langsung mengaitkannya dengan masalah jantung, termasuk henti jantung mendadak. Padahal, keluhan tersebut tidak selalu berasal dari organ yang sama.
Salah satu kondisi yang kerap disalahpahami adalah gastroesophageal reflux disease (GERD). Penyakit yang berkaitan dengan naiknya asam lambung ini sering menimbulkan sensasi panas di dada, rasa sesak, hingga nyeri yang menjalar. Gejala-gejala tersebut kerap membuat penderitanya khawatir berlebihan.
Dokter sekaligus pegiat edukasi kesehatan, dr Tirta Mandira Hudhi, dalam berbagai penjelasan publiknya di media sosial, menegaskan bahwa GERD bukan penyebab henti jantung.
“Gerd jauh sekali hubungannya dengan jantung,” kata dr Tirta dalam postingannya beberapa waktu lalu.
Menurutnya, meski keluhan GERD dan gangguan jantung sama-sama bisa dirasakan di area dada, mekanisme dan risikonya berbeda.
GERD merupakan gangguan pada sistem pencernaan, sementara henti jantung berkaitan langsung dengan sistem kardiovaskular. Rasa tidak nyaman akibat asam lambung yang naik memang bisa terasa intens, tetapi tidak berarti kondisi tersebut akan langsung berujung pada gangguan jantung.
Kesalahpahaman ini kerap diperparah oleh kecemasan. Saat seseorang panik, tubuh bisa merespons dengan jantung berdebar, napas pendek, dan rasa tidak nyaman yang semakin kuat. Pada akhirnya, yang muncul bukan hanya keluhan fisik, tetapi juga tekanan mental.
Meski demikian, para ahli tetap mengingatkan agar setiap keluhan nyeri dada tidak diabaikan. Pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk memastikan penyebab pastinya, terutama jika keluhan berlangsung lama atau disertai gejala lain yang mengganggu aktivitas.
Edukasi yang tepat menjadi penting agar masyarakat tidak terjebak pada ketakutan yang keliru. Memahami perbedaan antara gangguan pencernaan dan gangguan jantung dapat membantu seseorang bersikap lebih tenang dan rasional dalam merespons sinyal dari tubuhnya.

