Insitekaltim, Samarinda — Pelaksanaan Salat Jumat di Masjid Shiratal Mustaqiem, Samarinda Seberang, Kota Samarinda, berlangsung khidmat dan penuh kekhusyukan, Jumat, 16 Januari 2026. Sejak menjelang waktu zuhur, jamaah tampak memadati masjid untuk menunaikan ibadah rutin mingguan tersebut.
Suasana tenang dan tertib mewarnai rangkaian ibadah, mulai dari khutbah hingga pelaksanaan salat Jumat. Dalam khutbahnya, khatib mengingatkan jamaah agar senantiasa bersyukur atas segala nikmat dan rahmat yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala limpahkan.
Ia menegaskan bahwa manusia kerap lalai dan berpaling dari nikmat Allah, padahal Allah telah menjanjikan keberkahan dan keselamatan bagi hamba-Nya yang sabar dan pandai bersyukur.
“Jangan sampai kita lupa dan berpaling dari rahmat Allah. Mudah-mudahan kita termasuk hamba-hamba yang sabar dan bersyukur, yang senantiasa mendapat keselamatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala,” ujarnya di hadapan jamaah.
Memasuki materi utama khutbah, khatib menyampaikan pesan tentang peristiwa Isra dan Mikraj Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Ia mengutip firman Allah yang menegaskan bahwa Isra dan Mikraj merupakan peristiwa nyata serta termasuk mukjizat besar Rasulullah SAW.
Menurutnya, peristiwa agung tersebut tidak cukup dipahami hanya dengan logika manusia, melainkan harus dilandasi dengan keimanan yang kuat. Meski demikian, secara akal sehat, Isra dan Mikraj tetap dapat dipahami sebagai bentuk kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.
“Perjalanan Rasulullah SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, hingga menembus tujuh lapis langit dan kembali dalam waktu yang sangat singkat, adalah bukti bahwa bagi Allah tidak ada yang mustahil. Jika Allah berkehendak, maka ‘kun fayakun’, jadilah maka terjadilah,” jelasnya.
Lebih lanjut, khatib menekankan hikmah terbesar dari peristiwa Isra dan Mikraj, yakni perintah salat lima waktu. Ia mengingatkan jamaah agar tidak meremehkan kewajiban salat, karena salat merupakan amalan pertama yang akan dihisab di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Bukan jabatan, harta, atau kedudukan yang menjadi penentu utama, tetapi bagaimana kualitas salat kita. Maksiat terbesar dalam hidup ini adalah meninggalkan salat,” tegasnya.
Menutup khutbah, khatib mengajak seluruh jamaah untuk memperbanyak tobat, memohon ampunan bagi diri sendiri dan kedua orang tua, serta mendoakan kaum muslimin yang sedang sakit maupun yang telah wafat. Ia berharap umat Islam senantiasa diberi hidayah dan kembali ke jalan yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala.

