Insitekaltim, Samarinda — Tidak semua orang datang ke Kalimantan Timur (Kaltim) dengan mimpi besar menjadi wartawan. Bagi Ira Nur Ajijah, keputusan merantau dari Purwakarta ke Samarinda justru bermula dari langkah sederhana, nyaris tanpa rencana. Ia bahkan tak pernah membayangkan akan menekuni dunia jurnalistik sebagai jalan hidup.
Perkenalannya dengan jurnalistik berawal saat mengikuti program pelatihan di sebuah pondok pesantren. Kala itu, Ira hanya sekadar mencoba. Ia belajar dasar-dasar peliputan, pengeditan sederhana, hingga mengunggah berita. Semua berlangsung mengalir, tanpa target menjadikannya sebagai profesi tetap.
Kesempatan itu datang ketika Ira memperoleh tawaran magang di Samarinda. Berbekal keberanian yang lebih besar daripada keyakinan, ia mendaftarkan diri dan terpilih. Modalnya hanyalah pengalaman dasar serta tekad untuk belajar. Keputusan yang semula terasa nekat itu justru menjadi titik balik kehidupannya. Lebih dari dua tahun berlalu, Ira kini menetap di Samarinda dan berkiprah sebagai wartawan Media Sukri Indonesia (MSI) Group.
Selama menjalani profesi tersebut, banyak pengalaman yang mengubah cara pandangnya terhadap jurnalisme. Salah satu momen paling berkesan adalah saat ia duduk satu meja bersama Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud, dalam sebuah temu media di Lamin Etam. Di momen itu, Ira menyadari bahwa profesi wartawan memberinya akses dan tanggung jawab yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Pengalaman lain pun terus mengalir. Ia pernah meliput langsung proses pembahasan hingga pengesahan peraturan daerah, mengikuti rapat paripurna DPRD, hingga mendampingi kunjungan kerja Presiden RI ke-7, Joko Widodo. Dalam berbagai kesempatan tersebut, Ira berada dekat dengan para pengambil kebijakan, bukan sekadar untuk melihat, tetapi untuk menyampaikan informasi dan aspirasi publik kepada masyarakat luas.
Pengalaman-pengalaman itu menegaskan keyakinannya bahwa jurnalisme bukan semata soal menulis berita. Profesi ini menuntut tanggung jawab, keberanian, serta keberpihakan pada kepentingan publik.
Sebagai perantau, tantangan terbesar Ira muncul pada masa awal bekerja. Ia harus beradaptasi dengan lingkungan baru, ritme kerja lapangan yang cepat, serta tuntutan profesionalisme yang tinggi. Dukungan rekan-rekan kerja di MSI Group membantunya melewati fase tersebut. Seiring waktu, tantangan itu berubah menjadi proses pembelajaran yang membentuk mental dan kedewasaannya sebagai wartawan.
Dinamika jurnalistik di Kaltim memberikan pengalaman yang khas. Isu-isu strategis seperti pembangunan daerah, pengelolaan sumber daya alam, hingga kebijakan publik menuntut kepekaan dan ketelitian tinggi. Di MSI Group, kecepatan menjadi kebutuhan, namun tidak menghapus pentingnya akurasi dan etika jurnalistik.
Dalam setiap liputan, Ira memegang prinsip sederhana namun tegas: kebenaran tidak boleh dikorbankan demi kecepatan. Baginya, idealisme jurnalistik hadir dalam hal-hal mendasar, mulai dari ketelitian mengonfirmasi data, menghormati narasumber, hingga menyadari dampak setiap berita bagi publik.
Lebih dari dua tahun bersama MSI Group, Ira merasakan peran besar perusahaan dalam membentuk karakter dan kematangannya sebagai jurnalis. Disiplin, konsistensi, serta profesionalisme di lapangan menjadi nilai yang terus ia pegang. Dukungan perusahaan melalui kepercayaan dan ruang belajar menjadi motivasi tersendiri untuk membalas loyalitas dengan dedikasi.
Ke depan, Ira menargetkan dirinya menjadi wartawan yang lebih tajam dan berpengaruh, terutama dalam mengangkat isu-isu publik yang berdampak langsung bagi masyarakat. Ia berharap setiap tulisannya tidak hanya dibaca, tetapi juga dipahami dan memberi nilai.
Memasuki tahun 2026, Ira bertekad untuk terus belajar dan menjaga integritas sebagai jurnalis. Untuk MSI Group, ia menaruh harapan besar agar tetap solid, dipercaya publik, serta terus melahirkan wartawan-wartawan yang berani, jujur, dan profesional menjadi rumah tumbuh bagi sumber daya manusia jurnalistik di Kaltim.

