Insitekaltim, Samarinda — Aktivitas jual beli pentol yang dilakukan Feni, seorang pedagang kaki lima di kawasan Jalan Jenderal Sudirman Kota Samarinda, masih berjalan fluktuatif dari hari ke hari. Meski demikian, ia tetap bertahan dan bersyukur atas rezeki yang diperoleh.

Feni, yang biasa berjualan di sekitar Gereja Katedral Samarinda, mulai membuka lapaknya sejak pukul 16.00 Wita. Menurutnya, jumlah pembeli yang datang tidak menentu, namun tetap ada pembeli setiap harinya.
“Alhamdulillah tetap ada yang beli. Dibilang ramai tidak terlalu, tapi juga tidak sepi sekali,” ujar Feni Rabu, 24 Desember 2025.
Ia mengungkapkan, lokasi berjualan yang digunakannya saat ini berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Jika sebelumnya ia berjualan tepat di depan gereja, tahun ini ia harus bergeser ke lokasi lain karena adanya pembatasan aturan.
“Tahun kemarin saya jualan di depan gereja, tapi tahun ini tidak diperbolehkan, jadi pindah ke depan sini,” jelasnya.
Feni mengakui, penghasilan dari berjualan pentol tidak dapat dipastikan setiap hari. Kondisi ramai atau sepi sangat bergantung pada lokasi dan situasi di lapangan.
“Namanya jualan, kadang ramai, kadang sepi. Tidak tentu,” katanya.
Selain berjualan musiman, Feni juga kerap berjualan di kawasan kampus seperti di Jalan Harmonika dan sekitar Pahlawan. Menurutnya, area kampus memberikan pemasukan yang relatif lebih stabil dibandingkan berjualan saat kegiatan atau event tertentu.
“Kalau di kampus alhamdulillah tetap ada pembeli setiap hari. Tapi kalau di event, harganya bisa lebih tinggi,” ungkapnya.
Ia juga menyinggung kondisi ekonomi yang dirasakannya semakin menantang. Feni menilai tahun 2025 menjadi periode yang cukup berat bagi pedagang kecil, bahkan lebih sulit dibandingkan tahun sebelumnya.
“Tahun ini ekonominya terasa lebih susah daripada 2024,” ujarnya.
Meski demikian, ia berharap kondisi ekonomi ke depan dapat membaik sehingga penjualannya kembali meningkat.
“Mudah-mudahan ke depannya lebih ramai dan ekonomi juga semakin baik,” pungkasnya.

