Insitekaltim, Samarinda — Asisten II Perekonomian dan Pembangunan Kota Samarinda, Marnabas Patiroy menekankan pentingnya mendekatkan generasi muda dengan budaya lokal melalui kegiatan kebudayaan yang digelar Tim Koordinasi Kebudayaan (TKKB) di Museum dan Taman Samarinda.
Ia menyebut kegiatan tersebut menjadi ruang edukasi untuk mengenalkan sejarah serta nilai budaya sejak dini agar tidak tergerus perkembangan zaman.
Menurut Marnabas, kegiatan yang melibatkan berbagai daerah dari Nusantara seperti Kutai Barat hingga Jakarta ini merupakan bentuk komitmen bersama dalam menjaga dan menumbuhkan nilai budaya.
“Ini perlu kita apresiasi, karena teman-teman TKKB berupaya menumbuhkembangkan budaya kita. Keterlibatan daerah luar menunjukkan bahwa budaya Samarinda menjadi perhatian banyak pihak,” ujar Marnabas Jumat, 5 Desember 2025.
Ia menyampaikan, Museum Samarinda saat ini tengah gencar diperkenalkan kepada masyarakat luas. Bahkan, kunjungan dari anak-anak usia TK hingga SD mencapai 1.000 hingga 2.000 pengunjung setiap bulan.
Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda telah merencanakan pengembangan fasilitas museum, namun sementara ditunda akibat adanya pengurangan Transfer ke Daerah (TKD).
“Pengembangan museum bukan dibatalkan, hanya ditunda sambil menunggu kondisi TKD kembali positif,” jelasnya.
Kata dia, budaya lokal memiliki daya tarik besar, bahkan hingga mancanegara. Ia mencontohkan ketertarikan masyarakat Amerika yang datang ke Indonesia hanya untuk mempelajari gotong royong, sebuah nilai yang telah melekat kuat dalam kehidupan masyarakat.
“Kita ini bangsa yang terbiasa berkumpul, saling membantu, dan berinteraksi. Mereka kagum dengan itu, karena kehidupan mereka individualis. Budaya seperti ini harus kita wariskan,” katanya.
Lebih lanjit, Pemkot Samarinda terus memberikan dukungan nyata terhadap pelestarian budaya melalui penyediaan infrastruktur, ruang kegiatan, hingga penempatan personel di Museum Samarinda.
Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat ikut berkontribusi dengan menyumbangkan barang antik atau produk budaya untuk memperkaya koleksi museum.
“Jika ada barang antik, silakan disumbangkan. Itu menjadi amal jariah. Selama informasi dan pengetahuan dari barang itu bermanfaat, pahalanya terus mengalir,” tuturnya.
Untuk memperkuat kecintaan budaya di generasi muda, pemerintah menilai pentingnya pengenalan sejarah Samarinda, instrumen budaya leluhur, dan nilai-nilai sosial sejak usia dini.
“Setelah mengenal sejarah dan nilai budaya, barulah kita dorong lewat kegiatan. Jika sudah tertanam di hati, mereka akan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, seperti gotong royong, sopan santun, dan menghormati yang lebih tua,” ujar Marnabas.
Ia berharap rangkaian kegiatan budaya di Museum Samarinda dapat terus berlanjut menjadi ruang edukasi dan inspirasi bagi generasi muda dalam mencintai dan menjaga budaya lokal.

