Insitekaltim, Samarinda – Dahulu, Bandara Temindung identik dengan deru mesin pesawat yang landas dan mendarat di tengah padatnya pemukiman Samarinda. Warga sekitar masih ingat bagaimana setiap pagi, meski ada yang jogging di lintasan aspal panjang itu, pada pukul 07.00 harus segera minggir karena pesawat segera menyalakan mesin dan bersiap terbang.
Namun kini, suasananya berubah total. Sejak bandara ini resmi berhenti beroperasi pada 2018, area bekas runway sepanjang lebih dari satu kilometer itu menjelma menjadi ruang publik yang selalu ramai. Bukan lagi deru pesawat, melainkan tawa anak-anak, alunan musik zumba, dan suara pedagang yang menawarkan dagangan.
Setiap sore, terutama pukul 17.00–18.00 Wita, Temindung penuh sesak. Ratusan orang datang—diperkirakan bisa mencapai 200 lebih pengunjung setiap harinya. Mereka datang dari berbagai penjuru Samarinda, bahkan ada yang sengaja bersepeda dari rumah untuk ikut meramaikan suasana.
Kegiatan warga di sini beragam. Ada yang jogging santai, ada pula anak-anak sekolah yang asyik bermain bola atau berlarian. Di sudut lain, terlihat beberapa remaja belajar mengendarai motor, sementara sekumpulan anak kecil sibuk menerbangkan layang-layang. Tak jarang, komunitas ibu-ibu memilih menggelar zumba sore di ruang terbuka ini.
“Sekarang enak, tidak dibatasi jam lagi. Mau pagi, siang, sore, bisa datang kapan saja. Puncaknya ya sore hari, rame banget,” ujar salah satu pengunjung.
Suasana Temindung makin terasa seperti pasar rakyat saat deretan pedagang mulai berdatangan. Dari pentol, es krim, roti, mie instan, hingga gerobak kopi kekinian, semua ikut meramaikan bekas bandara yang dulunya identik dengan aktivitas penerbangan.
Vibesnya unik, seolah warga Samarinda punya “alun-alun” baru tanpa harus dirancang resmi. Kawasan yang dulunya simbol mobilitas udara kini beralih fungsi menjadi ruang sosial yang mempertemukan beragam lapisan masyarakat.
Transformasi ini menyimpan nostalgia tersendiri. Bagi sebagian orang, Temindung adalah saksi sejarah perjalanan penerbangan di Samarinda. Kini, meski pesawat tak lagi mendarat, kawasan itu tetap “hidup” dengan cara berbeda: menjadi ruang olahraga, hiburan, sekaligus pusat interaksi warga.
Mungkin inilah wajah baru Temindung, bukan lagi pintu keluar-masuk langit Samarinda, melainkan ruang bersama tempat warga menemukan kebersamaan sederhana. Dari deru pesawat ke suara tawa, Temindung tetap jadi denyut kehidupan kota.
