Reporter: Nuril – Editor: Redaksi
Insitekaltim, Bontang – Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang berkomitmen akan menurunkan angka kasus stunting yang saat ini mencapai 1.099 orang atau 19,52 persen.
“Kami selaku pemerintah berkomitmen menurunkan angka stunting melalui PKK atau dasa wisma tingkat RT dengan memberikan pendidikan kepada masyarakat terkait pemberian gizi pada balita,” kata Wakil Wali Kota Bontang Najirah kepada awak media usai Rakornas di Command Center, Diskominfo Bontang, Senin (23/8/2021).
Menurutnya Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memberikan target angka stunting di Indonesia menurun hingga minimal 14 persen pada tahun 2024 nanti.
Guna mendukung program pemerintah dalam menurunkan angka stunting, maka perlu kerjasama dengan lembaga dan OPD terkait untuk melakukan edukasi atau penyuluhan kepada masyarakat terkait pencegahan stunting.
“Kita mungkin akan menggandeng pihak ketiga untuk memberikan asupan gizi tambahan kepada ibu hamil atau menyusui,” ucapnya.
Najirah mengemukakan, Kota Bontang mengalami penurunan angka stunting yaitu pada tahun 2017 angka stunting mencapai 34 persen. Kemudian pada tahun 2021 per Juni menjadi 19,52 persen.
“Angka stunting balita kita mencapai 1.099 orang dengan jumlah keseluruhan balita sebanyak 15.911 orang,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan, Bahauddin menambahkan angka stunting balita tertinggi di Kota Bontang ada di Kelurahan Loktuan.
“Jumlahnya mencapai 198 orang dari total 1.915 orang,” ucapnya.
Dia menjelaskan adanya pengaruh penurunan angka stunting kurang lebih 15 persen dari tahun 2017 hingga 2021 dikarenakan ada faktor sensitif dan spesifik.
Lanjut Bahaudin faktor spesifik itu dipengaruhi oleh pola asuh orang tua, sedangkan faktor sensitif dipengaruhi oleh ekonomi keluarga.
“Stunting adalah kondisi tinggi badan anak lebih pendek dibanding tinggi badan anak seusianya. Stunting dapat mempengaruhi kecerdasan dan tumbuh kembang anak,” jelas Bahauddin.

