Artikel ini telah dilihat : 260 kali.
oleh

Pariwisata Samarinda Terangkat 40 Persen di Kuartal III

Reporter : Samuel – Editor : Redaksi

Insitekaltim, Samarinda – Kuartal II (Maret – Juni) lini perekonomian Kota Samarinda mendapat serangan hebat pandemi Covid-19, tak terkecuali sektor pariwisata.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Samarinda I Gusti Ayu Sulistiani mengatakan bahwa penurunan pendapatan sektor pariwisata sempat mencapai titik nol persen akibat penutupan tetap wisata di Kota Tepian.

Hingga pertengahan Kuartal III (Juli-September), sektor pariwisata hanya terangkat sekitar 40 pesen.

“Sejak 1 Juli hingga 20 Agustus, lini wisata hanya mampu terangkat 40 persen,” ucap wanita yang biasa disapa Ayu, saat dihubungi melalui telepon selulernya, Jumat (21/8/2020).

Harapan sempat terbuka tatkala Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda menerapkan fase relaksasi tahap tiga. Namun Ayu mengakui bahwa tampaknya kebijakan tersebut tak sepenuhnya ampuh mengatasi krisis ekonomi yang dihadapi sektor pariwisata akibat pembatasan pengunjung.

“Iya maklum, pengunjung memang dibatasi. Jika dulu bisa ratusan sekarang hanya boleh puluhan orang sekali kunjungan. Maksimal 50 pengunjung,” sambung Ayu.

Namun Ayu menegaskan bahwa pembukaan tempat hiburan malam (THM) dan lokasi pariwisata lainnya tetap memberlakukan protokol kesehatan.

Disiplin ini diperkuat dengan ditekennya Perwali Nomor 38 Tahun 2020 mengenai pengenaan sanksi bagi pelanggar protokol kesehatan, termasuk tak menggunakan masker. Ketentuan ini membuka asa roda perekonomian Kota Tepian akan tetap berputar.

“Hingga saat ini belum ada keluhan dari pengelola bisnis. Meski omzetnya tak alami peningkatan signifikan, namun tetap bersyukur. Yang penting roda ekonomi berputar,” terangnya.

Meski begitu, hinggga kini Samarinda masih berstatus zona merah penyebaran Covid-19. Akumulasi positifnya pun sudah mencapai 570 kasus.

Ayu mengingatkan bahwa meskipun tempat usaha masih diberikan kelonggaran, namun tetap saja kedisiplinan protokol kesehatan harus tetap diterapkan secara ketat.

“Kalau sampai terjadi klaster di cafe, THM dan lokasi usaha, kita juga yang rugi. Jadi disiplin dengan protokol kesehatan itu perlu,” pungkas Ayu.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed