Artikel ini telah dilihat : 226 kali.
oleh

Identifikasi Kawasan Kumuh Baru, Pemkot Siap Tata Kembali Kota Samarinda

Reporter : Samuel – Editor : Redaksi

Insitekaltim, Samarinda – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda laksanakan Rapat Koordinasi Penataan Kawasan Kumuh pada Rabu (19/8/2020).

Rapat koordinasi ini disebut sebagai upaya pemkot untuk mengakselerasi program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku). Yakni sebuah program yang memberi solusi terhadap penanganan kawasan kumuh di Kota Tepian.

Untuk diketahui di Samarinda tercatat ada sekitar 539,18 hektare kawasan kumuh.

Hal ini tertuang dalam Surat Keputusan (SK) Wali Kota Nomor 413.2/028/HK-KS/I/2015 dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kota Samarinda.

Dalam rapat yang diselenggarakan sekitar pukul 10.00 Wita, Sekretaris Kota Samarinda Sugeng Chairuddin menyampaikan bahwa dalam rapat tersebut terdapat kawasan kumuh baru yang muncul di luar dari SK Wali Kota Samarinda yang dikeluarkan tahun 2015 tersebut.

Namun dari total 500 hektar tersebut, Sugeng menyebutkan bahwa kini tersisa sekitar 38,22 hektar kawasan kumuh yang tersisa. Dan terdapat sekitar 32,29 hektar kawasan baru yang telah diidentifikasi.

“Berdasarkan laporan yang dibuat menggunakan tujuh kriteria. Terdapat total sekitar 70 hektare kawasan kumuh baru di Kota Samarinda,” sebut Sugeng.

Ia menuturkan bahwa identifikasi ini akan menjadi tahap awal untuk pembenahan Kota Samarinda

“Kita akan mapping dulu. Setelah itu baru kita rencanakan akan jadi apa tempat-tempat ini,” sambung Sugeng.

Rencananya, sebut Sugeng, piihak pemkot akan mengerjakan penataan bantaran sungai.

“Kita mau melakukan peremajaan nanti. Peremajaan yang nanti semisal, ada 2 – 3 hektare lahan di tepi sungai. Kita akan kondisikan sesuai aturan yang berlaku, misalnya beberapa meter yang ada di situ,” ucapnya.

Lalu, ketika penataan selesai, pemkot kemudian akan menggalakkan pembangunan-pembangunan yang menyasar pemberdayaan ekonomi masyarakat.

“Kita buat semacam tiwer dimana nanti pemilik tanah, semisal 100 orang, kita naikkan (pindahkan) di situ setelah di appraisal dan segala macam. Baru di lantai bawahnya kita jadikan kegiatan ekonomi seperti tempat futsal, aula untuk pernikahan, dan supermarket, seperti itu,” jelasnya

Konsep ini sebutnya, kemudian akan dibawa untuk dibahas bersama dengan pihak konsultan.

Sehingga, pada akhirnya, seluruh masyarakat di Samarinda khususnya di daerah-daerah yang telah “diremajakan”, bisa berdaya secara ekonomi.

“Jangan sampai seperti di beberapa daerah, dimana orang-orang aslinya dipinggirkan akibat tidak mampu bayar pajak,” kata Sugeng.

“Konsep yang kita inginkan adalah supaya masyarakat terakomodir. Akses pendidikannya dapat, ekonominya tidak tergganggu, tapi tempatnya rapi,” tandas Sugeng.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed